Kepala SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta: Menjadi Sahabat Siswa adalah Kunci Sukses Peran Guru Wali
YOGYAKARTA 31 Maret 2026 – Implementasi kebijakan guru wali sesuai Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 mulai menunjukkan dampak positif di tingkat satuan pendidikan. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta, Supriyadi, S.Pd., M.Si., dalam Sarasehan Pendidikan yang digelar PSKP UAD, Selasa (31/03/2026).
Transformasi Peran: Pendampingan yang Lebih Personal
Supriyadi membagikan praktik baik (best practice) yang telah diterapkan di sekolahnya. Dari 31 guru yang ada, sebanyak 27 guru ditetapkan sebagai guru wali. Berbeda dengan wali kelas konvensional, setiap guru wali di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta secara khusus mendampingi kelompok kecil yang terdiri dari 15 hingga 18 siswa.
“Guru wali kami tugaskan untuk mendampingi siswa dalam berbagai aspek, mulai dari kegiatan kokurikuler, keagamaan, hingga kunjungan luar sekolah (outing class). Tujuannya agar pendampingan menjadi lebih personal dan intensif,” jelas Supriyadi.
Sistem Kolaborasi Bertahap
Dalam menangani dinamika siswa, Supriyadi menerapkan sistem penanganan yang terstruktur dan berjenjang. Proses dimulai dari guru mata pelajaran, wali kelas, guru wali, hingga guru Bimbingan Konseling (BK) dan kepala sekolah.
Salah satu inovasi yang menonjol adalah integrasi layanan melalui home visit. “Guru wali bersama guru BK melakukan kunjungan langsung ke rumah siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau menghadapi permasalahan tertentu. Ini adalah bentuk kolaborasi nyata untuk memahami latar belakang siswa secara utuh,” tambahnya.
Dampak Nyata: Siswa Lebih Terbuka dan Disiplin Meningkat
Implementasi guru wali terbukti membawa perubahan signifikan pada iklim sekolah. Supriyadi mencatat adanya peningkatan kesejahteraan mental siswa dan penurunan angka pelanggaran disiplin. Hubungan antara guru dan siswa kini menjadi lebih dekat, bahkan melampaui batas jam sekolah.
“Dampaknya sangat terasa; siswa menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan masalah dan motivasi belajar mereka meningkat. Menjadi sahabat bagi siswa adalah langkah awal. Guru harus bisa menjadi pendengar yang baik, bukan sekadar pemberi nasihat,” tegasnya.
Tantangan di Lapangan
Meski sukses, Supriyadi tidak menampik adanya tantangan, seperti perbedaan kompetensi antar guru dan keberagaman latar belakang siswa. Namun, melalui rapat rutin dan sistem pencatatan perkembangan siswa yang terintegrasi dengan guru BK, kendala tersebut dapat diminimalisir.
Ia menutup pemaparannya dengan pesan kuat bagi para pendidik: “Pembelajaran tidak hanya soal transfer materi, tetapi soal kesiapan emosional siswa. Ketika siswa merasa nyaman dan memiliki sahabat di sekolah, potensi mereka akan berkembang dengan sendirinya.”



