Prof. Dody Hartanto: Guru Wali yang Bahagia adalah Kunci Kesehatan Mental Peserta Didik
YOGYAKARTA 31 Maret 2026 – Guru Besar Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Dody Hartanto, S.Pd., M.Pd., menyoroti urgensi kesejahteraan mental guru dalam sistem pendidikan nasional. Dalam paparan materinya pada Sarasehan Pendidikan PSKP UAD, ia menegaskan bahwa efektivitas peran guru wali sangat bergantung pada kondisi psikologis sang pendidik itu sendiri, Selasa (31/03/2026).
Fenomena “Generasi Lato-Lato”
Prof. Dody memperkenalkan istilah unik untuk menggambarkan karakteristik peserta didik saat ini, yaitu “Generasi Lato-Lato”. Istilah ini merujuk pada anak muda yang tampak sangat aktif dan memiliki mobilitas tinggi, namun sering kali kurang memiliki kedalaman pemahaman dan ketahanan mental yang kokoh.
“Mereka tampak aktif di permukaan, namun belum tentu memiliki ketahanan mental yang kuat. Fenomena depresi saat ini bukan sekadar karena tekanan berat, tetapi karena kehilangan arah dan makna hidup. Di sinilah guru harus hadir,” jelas Prof. Dody.
Prinsip “Guru Bahagia, Siswa Bahagia”
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah kaitan antara kebahagiaan guru dengan keberhasilan pendampingan siswa. Prof. Dody mempertanyakan kesiapan mental para guru wali yang saat ini sering kali terbebani oleh urusan administrasi dan tekanan ekonomi.
“Siswa yang bahagia berasal dari guru yang bahagia. Jika guru wali belum memiliki kesejahteraan dan kesiapan mental yang baik, akan sulit bagi mereka menjalankan peran sebagai pendamping emosional siswa secara optimal,” tuturnya.
Tiga Pilar Peran Guru Wali
Prof. Dody memetakan tiga konsep utama yang harus dijalankan secara seimbang oleh seorang guru wali:
-
Wali Administratif: Mengelola nilai dan administrasi kelas.
-
Wali Pedagogis: Memfasilitasi proses belajar dan mendeteksi kesulitan akademik.
-
Wali Konselor: Mendampingi aspek sosial, emosional, dan psikologis siswa.
Ia mencatat bahwa selama ini fokus guru wali masih terlalu berat pada urusan administratif, sementara peran sebagai “Wali Konselor” menjadi semakin mendesak mengingat data menunjukkan 1 dari 3 remaja saat ini mengalami masalah kesehatan mental.
Investasi Terbaik Bangsa
Sebagai solusi praktis, Prof. Dody menawarkan strategi implementasi bertahap (fase 1-3) yang dimulai dari pelatihan asesmen hingga mentoring berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa penguatan guru wali bukan sekadar program tambahan, melainkan investasi masa depan.
“Guru wali yang kompeten adalah investasi terbaik bangsa. Mereka bukan hanya pengelola kelas, tetapi pendamping seluruh aspek perkembangan siswa. Guru wali harus mampu menjadi jembatan komunikasi sekaligus advokat bagi kepentingan siswa,” pungkas Prof. Dody.



