Dr. Caraka Putra Bhakti: Guru Wali dan Konselor Harus Beradaptasi Hadapi Karakter Generasi Alpha
YOGYAKARTA 31 Maret 2026– Pakar Bimbingan dan Konseling (BK) UAD, Dr. Caraka Putra Bhakti, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pendampingan siswa di sekolah. Hal ini disampaikan dalam Sarasehan Pendidikan yang menyoroti penguatan kompetensi guru wali dan layanan BK di tengah pergeseran generasi peserta didik, Selasa (31/03/2026).
Tantangan Fokus dan Mental di Era Digital
Dalam paparannya, Dr. Caraka menjelaskan bahwa dunia pendidikan sedang bersiap menyambut Generasi Alpha. Generasi ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, terutama karena akses informasi digital yang tanpa batas sejak dini. Meski unggul dalam adaptasi teknologi, mereka menghadapi tantangan serius pada aspek psikologis.
“Kemampuan fokus peserta didik saat ini cenderung menurun akibat kebiasaan mengakses konten digital yang singkat (short-form content). Selain itu, pasca pandemi, kita melihat adanya peningkatan signifikan pada masalah kesehatan mental dan kecemasan,” ungkap Dr. Caraka.
Menghapus Stigma “Ruang BK Tempat Siswa Bermasalah”
Dr. Caraka menyoroti salah satu hambatan besar dalam sistem sekolah saat ini, yaitu persepsi keliru masyarakat terhadap layanan BK. Ia menegaskan bahwa fungsi BK bukan sekadar menghukum atau menangani siswa yang melanggar aturan (kuratif), melainkan sebagai upaya pencegahan (preventif) dan pengembangan potensi.
“Layanan BK mencakup pengembangan pribadi, sosial, belajar, hingga karier. Kita harus mengubah anggapan bahwa siswa yang ke ruang BK adalah siswa bermasalah. BK adalah tempat pengembangan karakter,” jelasnya.
Model Kolaborasi Tiga Tingkat (Tiering System)
Untuk menghadapi kompleksitas masalah siswa, Dr. Caraka menawarkan model pendampingan terpadu yang membagi peran antara guru kelas dan konselor profesional:
-
Tier 1 (Dasar): Pendampingan umum secara harian oleh guru wali dan guru mata pelajaran.
-
Tier 2 (Menengah): Pendampingan khusus oleh guru BK untuk kasus-kasus tertentu.
-
Tier 3 (Lanjut): Pendampingan intensif dan kolaboratif untuk penanganan yang lebih mendalam.
Pendekatan Kreatif untuk Generasi Baru
Menutup pemaparannya, Dr. Caraka mendorong para pendidik untuk menggunakan pendekatan konseling yang lebih segar dan relevan dengan hobi generasi muda. Menurutnya, konseling tidak harus selalu kaku di dalam ruangan.
“Pendekatan konseling saat ini harus lebih kreatif, bisa melalui musik, menulis, role playing, hingga aktivitas visual. Guru wali adalah penghubung utama antara siswa, sekolah, dan orang tua. Kolaborasi antara guru wali dan guru BK adalah kunci sistem pendidikan yang sehat,” pungkasnya.



