Sarasehan PSKP UAD: Guru Wali Jadi Kunci Kesehatan Mental Siswa
YOGYAKARTA 31 Maret 2026 – Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen RI menggelar Sarasehan Kebijakan Pendidikan bertajuk “Guru Wali dan Penguatan Kompetensi Bimbingan Konseling di Sekolah”. Acara yang berlangsung pada Selasa (31/03/2026) di Amphitarium Kampus IV UAD ini menjadi ruang refleksi kritis atas implementasi kebijakan pendidikan terbaru.
Kolaborasi Dua “PSKP” untuk Kebijakan Berdampak
Kepala PSKP UAD, Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan pengambil kebijakan (Kemendikdasmen). Ia menyoroti bahwa isu kesehatan mental siswa akan menjadi tantangan pendidikan yang relevan hingga puluhan tahun ke depan.
“Pendidikan hari ini menghadapi tantangan serius, salah satunya kesehatan mental. Harapannya, forum ini menjadi sarana refleksi agar kebijakan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan lapangan,” ujar Dr. Azaki.
Senada dengan hal tersebut, Kepala PSKP Kemendikdasmen, Irsyad Zamjani, Ph.D., menjelaskan bahwa kebijakan penguatan guru wali merupakan mandat dari Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025. Menurutnya, guru wali memiliki tiga tugas utama: memantau perkembangan akademik, memperkuat karakter, dan membangun budaya sekolah yang aman (well-being).
Krisis Kesehatan Mental: Bukan Sekadar Tekanan, Tapi Keputusasaan
Dalam sesi materi, Guru Besar BK UAD, Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd., memaparkan data mengkhawatirkan mengenai kesehatan mental. Ia mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
“Fenomena bunuh diri atau depresi bukan semata karena tekanan berat, tetapi karena munculnya rasa hopelessness (putus asa),” jelas Prof. Dody. Ia menekankan bahwa guru wali harus bergeser dari sekadar “wali administratif” menjadi “wali pedagogis” dan “wali konselor” yang mampu menjadi titik cahaya bagi siswa.
Tantangan Gen Z dan Gen Alpha di Era Digital
Sementara itu, Dr. Caraka Putra Bhakti menyoroti perilaku Gen Z dan Gen Alpha yang sangat dipengaruhi teknologi. Kemampuan fokus yang pendek akibat konsumsi video pendek (skimming) berdampak langsung pada kestabilan emosi siswa.
“Riset terbaru menunjukkan emosi paling dominan yang diekspresikan di media sosial Indonesia adalah sedih. Keterbukaan informasi yang terlalu luas justru memicu kecemasan (anxiety) yang sering kali bermanifestasi pada gejala fisik seperti gangguan lambung (GERD),” papar Dr. Caraka.
Perspektif Praktis dan Harapan ke Depan
Acara ini juga menghadirkan Supriyadi, S.Pd., M.Si. (Kepala SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta) yang memberikan perspektif praktis dari lapangan, serta Hilma Fanniar Rohman, S.E., M.E. (Direktur Eksekutif PSKP UAD).
Mas Fanniar menegaskan bahwa jangan sampai beban administratif menghambat peran esensial guru wali. “Esensi kebijakan ini adalah well-being siswa. Guru wali adalah garda terdepan untuk deteksi dini masalah psikososial siswa di era digital,” pungkasnya.
Sarasehan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konstruktif bagi Kemendikdasmen dalam menyusun instrumen pendampingan bagi guru wali kelas di seluruh Indonesia.



